Istilah Enterprise Architecture, tidak dapat dipisahkan dari John Zachman. Saat masih bekerja di IBM pada tahun 80-an, Zachman menggagas sebuah Framework IT berskala Enterprise yang dituangkannya dalam sebuah artikel. Selain Zachman, terdapat beberapa 'guru' arsitektur TI lainnya. Seperti Grady Booch, bersama 'three amigos' menelurkan UML.
Axonometry
Catatan pribadi dalam petualangan akademis menuju jenjang doktoral.
Monday, July 11, 2011
[Video] Enterprise Architecture 'Guru'
Sunday, July 10, 2011
Pertanyaan Mendasar Arsitektur TI
Sebelum terjun di dunia TI, saya sempat berkecimpung didunia Arsitektur Bangunan selama kurang lebih 4 tahun. Setelah fulltime didunia TI, ketertarikan saya terhadap dunia arsitektur masih tinggi. Untuk mengobati 'kangen' biasanya saya menonton acara "National Geographic Channel" yang membahas konstruksi bangunan.
Selalu setelah melihat acara tersebut, tak habis saya berdecak kagum. Betapa luar biasanya karya dan karsa yang manusia dapat lakukan. Mulai dari Petronas Tower, Burj Al Arab, 101 Tower, Bird Nest, dan berbagai gedung spektakuler lainnya.
Indonesia seakan tak mau ketinggalan. Tahun 2012, Indonesia akan menjadi salah satu bangsa yang memiliki menara tertinggi didunia. Konstruksi telah dimulai pada bulan Januari 2010. Pembangunan menara setinggi 558 meter, yang akan menjadi kebanggaan Nasional, direncanakan akan dibangun dalam waktu 2 tahun.
Bercermin dari Arsitektur Bangunan, timbul pertanyaan mendasar. Mengapa banyak proyek TI gagal diselesaikan? Mengapa banyak proyek TI berjalan berlarut-larut? Apakah membangun gedung lebih mudah dibandingkan dengan implementasi TI?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut akan menjadi dasar Riset Doktoral yang akan saya ambil. Riset tersebut diharapkan dapat melakukan identifikasi penyebab dan sekaligus metodologi untuk menjembatani gap antara permasalahan dan solusinya. Kondisi karakter dan budaya Indonesia yang berbeda dengan negara lain, akan menjadi salah satu faktor utama.
Berikut beberapa hasil yang disasar dari riset ini :
Selalu setelah melihat acara tersebut, tak habis saya berdecak kagum. Betapa luar biasanya karya dan karsa yang manusia dapat lakukan. Mulai dari Petronas Tower, Burj Al Arab, 101 Tower, Bird Nest, dan berbagai gedung spektakuler lainnya.
Indonesia seakan tak mau ketinggalan. Tahun 2012, Indonesia akan menjadi salah satu bangsa yang memiliki menara tertinggi didunia. Konstruksi telah dimulai pada bulan Januari 2010. Pembangunan menara setinggi 558 meter, yang akan menjadi kebanggaan Nasional, direncanakan akan dibangun dalam waktu 2 tahun.
Bercermin dari Arsitektur Bangunan, timbul pertanyaan mendasar. Mengapa banyak proyek TI gagal diselesaikan? Mengapa banyak proyek TI berjalan berlarut-larut? Apakah membangun gedung lebih mudah dibandingkan dengan implementasi TI?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut akan menjadi dasar Riset Doktoral yang akan saya ambil. Riset tersebut diharapkan dapat melakukan identifikasi penyebab dan sekaligus metodologi untuk menjembatani gap antara permasalahan dan solusinya. Kondisi karakter dan budaya Indonesia yang berbeda dengan negara lain, akan menjadi salah satu faktor utama.
Berikut beberapa hasil yang disasar dari riset ini :
- Meningkatkan tingkat keberhasilan implementasi TI.
- Menurunkan biaya dan meningkatkan penggunaan TI pada dunia usaha tingkat kecil dan menengah.
- Teknologi informasi dapat dilihat investasi perusahaan, memberikan value bagi stakeholder.
- Meningkatkan kompetensi usaha kecil dan menengah dalam menerapkan TI untuk kegiatan usaha mereka.
Labels:
Arsitektur,
Bangunan,
Gedung,
TI
Thursday, July 7, 2011
The illustrated guide to a Ph.D
Mungkin artikel ini adalah artikel yang paling populer yang pernah dibuat oleh Matt Might. Artikel ini sering dikutip dan juga pernah dimuat dibeberapa website dan e-magazine. Dalam artikel ini Matt menjelaskan konsep studi Doktoral dengan menggunakan gambar ilustrasi. Dengan menggunakan ilustrasi tersebut, pembaca dapat dengan mudah memahami filosofi dari studi Doktoral.
Berikut ini adalah terjemahaan saya dari penjelasan Matt mengenai program Doktoral dalam bentuk gambar.
1. Bayangkan sebuah lingkaran yang berisi semua pengetahuan yang dimiliki manusia.
2. Saat anda menyelesaikan Sekolah Dasar (SD), pengetahuan anda masih sedikit.
3.Ketiga anda menyelesaikan SMA, anda tahu sedikit lebih.
4. Saat anda menyelesaikan kuliah S1, anda memiliki spesialisasi.
5. Gelar Master atau Pendidikan S2, memperdalam spesialisasi tersebut.
6. Membaca beberapa makalah penelitian (research papers) membawa anda kebatas pengetahuan manusia.
7. Saat anda berada digaris batas, maka anda mulai fokus.
8. Anda mendorong batas tersebut selama beberapa tahun.
9. Sampai pada suatu hari, batasan tersebut mulai bengkok / menekuk.
10. Dan tekukan yang anda buat itulah Gelar Doktor atau PhD anda.
11. Tentu saja, sekarang dunia akan terlihat berbeda bagi anda.
12. Namun jangan lupakan gambaran besar (big picture).
Teruslah mendorong ...
Sumber : http://matt.might.net/articles/phd-school-in-pictures/
Berikut ini adalah terjemahaan saya dari penjelasan Matt mengenai program Doktoral dalam bentuk gambar.
1. Bayangkan sebuah lingkaran yang berisi semua pengetahuan yang dimiliki manusia.
2. Saat anda menyelesaikan Sekolah Dasar (SD), pengetahuan anda masih sedikit.
3.Ketiga anda menyelesaikan SMA, anda tahu sedikit lebih.
4. Saat anda menyelesaikan kuliah S1, anda memiliki spesialisasi.
5. Gelar Master atau Pendidikan S2, memperdalam spesialisasi tersebut.
6. Membaca beberapa makalah penelitian (research papers) membawa anda kebatas pengetahuan manusia.
7. Saat anda berada digaris batas, maka anda mulai fokus.
8. Anda mendorong batas tersebut selama beberapa tahun.
9. Sampai pada suatu hari, batasan tersebut mulai bengkok / menekuk.
10. Dan tekukan yang anda buat itulah Gelar Doktor atau PhD anda.
11. Tentu saja, sekarang dunia akan terlihat berbeda bagi anda.
12. Namun jangan lupakan gambaran besar (big picture).
Teruslah mendorong ...
Sumber : http://matt.might.net/articles/phd-school-in-pictures/
Labels:
Bimbingan,
Doktoral,
Matt Might,
PhD
3 Jenis Riset Program Doktoral
Saat tes wawancara berlangsung, ibu penguji mengajukan pertanyaan, "Jenis riset apa yang anda pilih dalam Disertasi anda?".
Seingat saya terdapat dua jenis riset, yaitu riset kualitatif dan riset kuantitatif. Saya pun menjawab, "Riset kualitatif sepertinya paling tepat untuk tema riset saya. Namun beberapa segi, juga menggunakan kuantatif."
Senyum simpul ibu penguji tadi membuat saya tidak yakin dengan jawaban saya ...
Malam harinya, saya mencari informasi di internet mengenai apa saja jenis riset untuk S3. Salah satu artikel menarik dan informatif saya temukan berjudul, "Hakikat Penelitian Untuk Suatu Disertasi Doktor"*. Artikel ini ditulis oleh Almarhum Prof.Dr.Ir. Jacub Rais, M.Sc.**, seorang ahli Geomatika Indonesia.
Dalam artikel tersebut, dipaparkan tiga jenis riset disertasi doktoral, yaitu :
1. Exploratory Research (Riset untuk menemui sesuatu)
Riset ini digunakan untuk memecahkan topik yang sangat baru dan tidak banyak dipahami umum. Riset ini merupakan lini depan 'frontier' dari ilmu pengetahuan. Hasilnya berupa teori atau konsep baru.
2. Testing-out Research (Riset utk menguji-coba sesuatu)
Riset ini merupakan riset dasar, untuk menguji teori umum kedalam kondisi tertentu. Sebagai contoh: “Apakah suatu teori dapat diterapkan pada suhu tinggi?” Riset testing dapat dilakukan berulang-ulang atau berkesinambungan sehingg dapat mengembangkan atau memperbaiki teori umum yang diuji.
3. Problem Solving Research (Riset untuk memecahkan masalah)
Riset ini dilakukan untuk memecahkan masalah yang terjadi dengan 'dunia nyata'. Permasalahan dan metode pemecahannya harus dirumuskan dengan jelas. Hasilnya berupa langkah-langkah atau metode untuk memecahkan masalah tersebut. Masalah yang terjadi di 'dunia nyata' umumnya bersifat semrawut atau messy dan terkait berbagai bidang ilmu. karena itu riset ini bisa melibatkan lintas disiplin ilmu.
Dari ketiga jenis riset tersebut, kebanyakan mahasiswa di Amerika mengambil jalur riset Testing-Out. Hal ini disebabkan , riset ini dilakukan dalam koridor 'establish framework' (kerangka kerja yang sudah mapan). Sehingga memberikan peneliti dilindungi oleh 'establish nature' dari banyak gagasan dan argumen. Peneliti dapat melakukan riset dengan lebih terpusat dan 'aman'.
Dalam artikelnya, Profesor Jacub juga lebih menyarankan jenis riset Testing-Out. Namun bila peneliti memiliki kepercayaan diri, daya tahan, pengalaman praktis dan dukungan pembimbing yang besar, maka boleh mengambil jenis riset Exploratory atau Problem Solving.
Untuk topik riset saya, sepertinya saya akan menggunakan jenis riset problem solving. Namun ini masih dalam tahap pemikiran awal, saya akan berdiskusi dulu dengan mentor pembimbing untuk menentukan dengan tepat jenis riset disertasi saya.
--------------------------------
* Artikel yang ditulis Profesor Jacub, disadur secara bebas dari: Phillips, E.M and D.S. Pugh. 1994. How to Get a PhD. Open University Press. Buckingham, Philadelphia, USA ditambah dgn pengalaman beliau sendiri selama 20 tahun dalam membimbing disertasi doktor di berbagai universitas di Indonesia.
**PROF.DR.IR. JACUB RAIS, M.SC. (Almarhum)
Gurubesar Emeritus ITB; Anggota DRN & AIPI. Sebagai Promotor telah menghasilkan 10 doktor di ITB dan sebagai Co-promotor 1 doktor di UI. Saat ini sebagai Ketua Tim Pembimbing utk 3 orang (ITB); Promotor 1 orang di UI dan sebagai anggota tim pembimbing utk 3 orang di IPB. Beliau telah berpulang pada hari Senin 28 Maret 2011 pkl 12.30, di Kemang Jakarta.
Dalam artikel tersebut, dipaparkan tiga jenis riset disertasi doktoral, yaitu :
1. Exploratory Research (Riset untuk menemui sesuatu)
Riset ini digunakan untuk memecahkan topik yang sangat baru dan tidak banyak dipahami umum. Riset ini merupakan lini depan 'frontier' dari ilmu pengetahuan. Hasilnya berupa teori atau konsep baru.
2. Testing-out Research (Riset utk menguji-coba sesuatu)
Riset ini merupakan riset dasar, untuk menguji teori umum kedalam kondisi tertentu. Sebagai contoh: “Apakah suatu teori dapat diterapkan pada suhu tinggi?” Riset testing dapat dilakukan berulang-ulang atau berkesinambungan sehingg dapat mengembangkan atau memperbaiki teori umum yang diuji.
3. Problem Solving Research (Riset untuk memecahkan masalah)
Riset ini dilakukan untuk memecahkan masalah yang terjadi dengan 'dunia nyata'. Permasalahan dan metode pemecahannya harus dirumuskan dengan jelas. Hasilnya berupa langkah-langkah atau metode untuk memecahkan masalah tersebut. Masalah yang terjadi di 'dunia nyata' umumnya bersifat semrawut atau messy dan terkait berbagai bidang ilmu. karena itu riset ini bisa melibatkan lintas disiplin ilmu.
Dari ketiga jenis riset tersebut, kebanyakan mahasiswa di Amerika mengambil jalur riset Testing-Out. Hal ini disebabkan , riset ini dilakukan dalam koridor 'establish framework' (kerangka kerja yang sudah mapan). Sehingga memberikan peneliti dilindungi oleh 'establish nature' dari banyak gagasan dan argumen. Peneliti dapat melakukan riset dengan lebih terpusat dan 'aman'.
Dalam artikelnya, Profesor Jacub juga lebih menyarankan jenis riset Testing-Out. Namun bila peneliti memiliki kepercayaan diri, daya tahan, pengalaman praktis dan dukungan pembimbing yang besar, maka boleh mengambil jenis riset Exploratory atau Problem Solving.
Untuk topik riset saya, sepertinya saya akan menggunakan jenis riset problem solving. Namun ini masih dalam tahap pemikiran awal, saya akan berdiskusi dulu dengan mentor pembimbing untuk menentukan dengan tepat jenis riset disertasi saya.
--------------------------------
* Artikel yang ditulis Profesor Jacub, disadur secara bebas dari: Phillips, E.M and D.S. Pugh. 1994. How to Get a PhD. Open University Press. Buckingham, Philadelphia, USA ditambah dgn pengalaman beliau sendiri selama 20 tahun dalam membimbing disertasi doktor di berbagai universitas di Indonesia.
**PROF.DR.IR. JACUB RAIS, M.SC. (Almarhum)
Gurubesar Emeritus ITB; Anggota DRN & AIPI. Sebagai Promotor telah menghasilkan 10 doktor di ITB dan sebagai Co-promotor 1 doktor di UI. Saat ini sebagai Ketua Tim Pembimbing utk 3 orang (ITB); Promotor 1 orang di UI dan sebagai anggota tim pembimbing utk 3 orang di IPB. Beliau telah berpulang pada hari Senin 28 Maret 2011 pkl 12.30, di Kemang Jakarta.
Labels:
Doktoral,
Exploratory,
Jacub Rais,
PhD,
Problem Solving,
Riset,
Testing Out
Saturday, July 2, 2011
3 Kualitas Mahasiswa Doktoral
Sebelum kuliah dimulai, saya melakukan riset dan mengumpulkan informasi mengenai program doktoral. Beruntung saya memiliki beberapa teman yang sudah memiliki gelar doktoral sebagai tempat bertanya dan diskusi. Sebagian informasi saya gali melalui google. Banyak sekali informasi bermanfaat yang dapat membantu kita menjalani riset doktoral.
Saya menemukan Blog yang sangat informatif terutama bagi mereka yang masih awal berkecimpung di jenjang Doktoral. Matt Might, Assistant Professor dari Universiti of Utah, begitu 'royal' membagikan pengalamannya membimbing mahasiswa yang melakukan riset doktoral. Di salah satu artikelnya, Matt menjelaskan 3 kualitas yang harus dimiliki mahasiswa untuk melalui program Doktoral. Dengan gaya bahasanya yang lugas, namun lucu dan tidak jarang sarkastik, membuat saya menikmati membaca tulisannya sampai paragraf terakhir.
Berikut ringkasan singkat mengenai 3 kualitas dari mahasiswa Doktoral :
1. Perseverance - Tekun
Mahasiswa doktoral akan mengalami tekanan, penolakan, kebingungan dan bahkan frustasi dalam menjalani pendidikan dan riset yang diperlukan. Terutama saat melakukan riset, dimana sudah tidak ada lagi ujian dan kuliah yang memberi mahasiswa tersebut arahan. Penolakan demi penolakan juga akan dihadapi mahasiswa saat ia berusaha menerbitkan jurnal akademisnya, dimana hal ini menjadi salah satu syarat kelulusan. Matt menyarankan agar kita menurunkan ego. "If you have an ego problem, Ph.D. school will fix it. With a vengeance," katanya.
2. Tenacity - Pantang Menyerah
Matt menekankan bahwa setelah mendapat gelar Doktor, tidak serta merta mudah mendapat pekerjaan (kasus Amerika dimana persaingan akademis sudah sangat tinggi). Perlu kerja keras serta yang terpenting membangun hubungan atau relasi dengan lingkungan akademis. Memberi informasi mengenai apa yang sudah kita lakukan, dan yang terpenting membuat mereka tertarik dengan apa yang kita kerjakan. Ternyata diperlukan keahlian marketing dan sales juga bagi lulusan Doktoral di Amerika.
3. Cogency - Beragumentasi memberikan alasan kuat
Terakhir, seorang mahasiswa Doktoral harus memiliki kemampuan untuk menyampaikan idenya secara jelas dan meyakinkan, (atau bahasa yang Matt gunakan "forcefully") baik secara tulisan atau kata-kata. Dengan kata lain, mahasiswa doktoral memiliki kemampuan presentasi dan menulis yang baik. Yang paling sulit adalah kemampuan menulis. Untuk melatih hal ini diperlukan latihan dan kerja sabar. Matt menyarankan, setidaknya melakukan 10.000 jam menulis agar mahasiswa dapat meningkatkan kemampuan menulis dengan baik.
"That's why I recommend that new students start a blog. Even if no one else reads it, start one. You don't even have to write about your research. Practicing the act of writing is all that matters."
Saran dari Matt tersebut yang membuat saya mulai menulis dan 'ngeblog' lagi ....
Sumber :
3 qualities of successful Ph.D. students: Perseverance, tenacity and cogency
Subscribe to:
Posts (Atom)













